Halloween party ideas 2015

Kala Turis Asing Mengusir Penduduk Venezia

Kanal besar alias grande canale di Venezia, FOTO: getyourguide.it

Kota Venezia yang terkenal itu rupanya kini ditinggal pergi oleh warganya. Anehnya, makin banyak turis asing yang datang menghampiri kota turis top dunia ini. Mengapa keanehan ini terjadi?

Warga Venezia tentunya bangga dengan kota mereka. Ibarat anak kecil dan mainan kesukaannya, warga Venezia makin lekat dengan kota mereka. Mereka tentu tidak akan meninggalkan kota mereka. Sebaliknya, mereka tentu mencintai kota mereka. Mereka menghalau perusak yang datang dari luar. Melindungi keindahan arsitek, spiritualitas, alam, budaya serta kehidupan sosial kota mereka.

Inilah yang membuat Venezia menjadi kota terpadat penduduknya di seluruh Regione Veneto. Kota Venezia yang bernaung di bawah Provincia Venezia dan Comune Venezia ini berpenduduk sekitar 262.246 orang. Kalau dijumlahkan semua dengan mereka yang tinggal di seluruh kota sekitar menjadi 363.468 orang. Untuk ukuran jumlah penduduk setingkat comune, kota Venezia menempati urutan ke-11 untuk seluruh kota di Italia.

Kota Venezia memang bukan kota baru. Kota ini dalam sejarahnya berumur ribuan tahun. Kota ini pernah menjadi ibu kota negara Republik Venezia atau Repubblica di Venezia sepanjang lebih dari 1000 tahun (697-1797 Masehi). Selama periode ini muncul dua tokoh penting dalam sejarah Republik Venezia yakni Paoluccio Anafesto (697-717) dan Lodovico Manin (09/03/1789-12/05/1797).

Paoluccio Anafesto dikenal sebagai il primo doge atau Pemegang Tahta Tertinggi yang pertama dalam sistem pemerintahan Republik Venezia. Kata ‘doge’ berasal dari kata dalam dialek Venezia ‘doxe’ yang artinya kurang lebih seperti Raja. Sedangkan, Lodovico Manin adalah l’ultimo doge atau Pemegang Tahta Tertinggi yang terakhir. Dari Anafesto sampai Manin terdapat 120 orang raja yang memerintah Republik Venezia.

Canale grande berlatar belakang Gereja, FOTO: venicewatertaxi.it

Melihat banyaknya jumlah Raja yang memerintah ini, Republik Venezia pun mempunyai beberapa nama. Raja di Venezia ibaratnya seperti para Menteri Pendidikan di Indonesia yang mengubah-ubah sistem pendidikan di Indonesia. Seperti para Menteri, raja-raja ini mempunyai hak untuk mengubah nama kerajaan mereka. Nama Republik Venezia pun ditulis dalam beragam nama misalnya Venetiarum Respublica dalam bahasa Latin, kemudian Repubblica Veneta yang diambil dalam dialek orang Venetto Republica Veneta. Ada juga nama lain yang jauh dari nama aslinya yakni Repubblica di San Marco dan Serenissima.  Nama Marco boleh jadi terkait dengan nama satu dari Gereja antik di kota Venezia yang sudah ada sejak zaman itu.

Republik Venezia yang eksis sampai abad ke-18 ini meliputi daerah Timur Laut Italia dan beberapa bagian Utara lainnya seperti bagian negara Slowakia saat ini, daerah Ciprus, dan Kereta di Yunani. Itulah sebabnya di kerajaan ini muncul beberapa bahasa seperti Italia, Latin, Slovania, Veneto, dan Yunani.

Republik Venezia berhenti berjaya sejak abad ke-18 tetapi peninggalannya masih bertahan dan makin menarik saat ini. Venezia seolah-olah mekar bunga yang tiada henti. Hari ini tumbuh dan besok tumbuh lagi. Hari ini mekar dan besok mekar lagi. Mekar terus dan tanpa henti. Entah suatu saat akan berhenti jika Venezia meninggalkan budaya, arsitek, alam, dan spiritualitasnya.

Venezia memang unik. Venezia bukan berdiri di atas satu tanah saja. Venezia terkenal karena banyak komponen di dalamnya. Bayangkan, Venezia nama besarnya. Di dalam nama besar ini terdapat banyak nama pulau kecil di sekitarnya yang berjumlah 118. Di peta, komponen ini amat nyata. Jangan heran jika Venezia terkenal karena jembatan antiknya. Jembatan inilah yang menjadi sarana penghubung dari satu pulau ke pulau lainnya. Bahkan, dari daratan Italia ke Stasiun Santa Lucia yang berada di pulau—terpisah dari daratan Italia—tersedia jalur kereta api. Dari Stasiun Maestre (daratan Italia) sampai Stasiun Santa Lucia (Pulau Venezia) hanya 12 menit dengan kereta api regionale.

Di kawasan pusat sejarah (centro storico) terdapat beberapa tempat yang berhubungan. Hubungan ini kadang melalui kanal besar yang dikenal dengan sebutan canale grande. Di kanal-kanal ini berlabuh perahu-perahu untuk para pengunjung. Perahu ini juga yang berlabuh di bawah jembatan terkenal yakni Ponte di Rialto atau Jembatan Rialto. Jembatan ini bersama keempat jembatan lainnya (ponte dell'Accademia, ponte degli Scalzi dan ponte della Costituzione) di pusat sejarah kota Venezia menjadi jembatan antik dan terkenal. Keempat jembatan ini menjadi penghubung di Canale Grande tadi.

Ponte atau jembatan Rialto, FOTO: venicewatertaxi.it
Sampai di sini kiranya jelas bahwa kota Venezia itu menarik banyak orang. Keindahannya bukan saja membuat warganya mencintai kota mereka tetapi juga membuat turis jatuh cinta dengan kota ini. Jatuh cinta ini rupanya membuat warga Venezia harus meninggalkan kota mereka.

Penduduk Venezia saat ini rupanya pelan-pelan berkurang. Mereka kebanyakan tinggal di luar kota mereka. Meski demikian, kota Venezia tetap ramai. Turis asing rupanya mengambil alih kota Venezia ini.

Dari sensus penduduk bulan November yang lalu muncul data bahwa hanya 54.994 penduduk Venezia yang tinggal di kota Venezia. Sekitar 10 tahun lalu (2006), penduduk kota ini berjumlah 60.000. Bahkan, kota ini pernah dihuni oleh 120.000 orang pada tahun 1960-an. Kalau dirata-ratakan, saat ini terdapat sekitar 2,6 orang penduduk Venezia yang meninggalkan kota mereka setiap hari.

Pengurangan ini tidak membuat Venezia sepi. Venezia tetap ramai misalnya di sekitar jembatan-jembatan, di pusat sejarah kota, di perahu-perahu. Keramaian ini rupanya diisi oleh para turis asing yang saat ini jumlahnya hampir sama dengan jumlah penduduk kota Venezia yakni 50.000-an orang.

Penduduk Venezia pun merasa asing dengan kota mereka. Mereka kini merasa sulit untuk tinggal di kota asal mereka. Mereka juga merasa sulit hidup di kota yang kini dipadati oleh kelompok droga alias mabuk-mabukkan, dan kelompok penghuni stasiun. Warga Venezia tidak biasa dengan kehidupan aneh nan asing seperti ini.

Kesulitan lain yang mereka hadapi adalah soal tata kelola kota Venezia. Pemerintah kota saat ini memberikan ruang seluas-luasnya kepada pengelola mode. Jadilah Venezia sebagai kota mode yang menjajah penduduknya. Warga terpaksa melepaskan tempat tinggal mereka untuk dijadikan pusat mode. Alhasil, Venezia terkenal dengan mode-nya sekaligus menjadi mode yang kebablasan, yang tidak ramah dengan penduduknya.

Kesulitan besar ini menjadi bagian utama dari kesulitan kecil lainnya seperi macetnya moda transportasi publik. Orang Venezia bahkan merasa sesak karena sulit bergerak. Mereka mengatakan spostarsi è impossibile, tidak mungkin lagi bergerak sekadar berpindah-pindah tempat di kota ini.
 
Sisi Lain dari Kanal besar di Venezia, FOTO: globeholidays.net

Orang Venezia yang mencintai kota mereka ini pun bergerak untuk aksi protes. Mereka sudah mulai berjuang dengan membuat protes kecil dan aman di beberapa tempat umum di kota sampai di depan kantor wali kota. Aksi protes ini pun diteruskan ke Pemerintah Pusat. Bahkan, juga sampai ke UNESCO, sebagai badan internasional yang memberi perhatian pada warisan budaya dunia.

Dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pun sudah muncul tanggapan. Tidak main-main, dalam waktu dekat pemerintah Italia dan pemerintah setempat di Venezia mesti memenuhi tuntutan UNESCO. UNESCO rupanya sudah melihat situasi kurang bagus di kota Venezia. Organisasi PBB ini merasa perlu ada tindakan khusus agar warisan dunia di kota Venezia tidak rusak. Itulah sebabnya, UNESCO memberi waktu pada Italia dari saat ini sampai bulan Februari 2017 yang akan datang untuk mengatasi situasi kurang bagus terkait keadaan warisan dunia di kota Venezia.

Semoga Venezia tidak akan seperti Bali dan kawasan Puncak, Jawa Barat. Di Bali, banyak tempat dan bangunan yang dimiliki oleh turis asing. Warga Bali menjadi tamu di rumahnya. Demikian juga di kota Labuan Bajo yang digadang sebagai Bali ke-2 atau ke-3. Di kawasan Puncak juga hampir sama karena pemilik hotel dan resort sebagian besarnya penduduk Jakarta dan juga para bule Arab yang menghabiskan masa kawin kontraknya di kawasan sejuk ini.

Sekadar berbagi yang dilihat, ditonton, didengar, dirasakan, dialami, dibaca, dan direfleksikan.

PRM, 19/12/2016


Gordi

Dipublikasikan pertama kali di blog kompasiana

Teatro Farnese, Persembahan dari Raja untuk Rakyat Kota Parma
 
Tampak dari bagian depan, berbentuk U. Dokumentasi pribadi

Kebaikan seorang pemimpin akan dikenang oleh rakyatnya jika ia berhasil meninggalkan sesuatu yang berharga bagi rakyatnya.

Kredo ini kiranya berlaku dalam relasi antara raja dan rakyat di kota Parma, Italia. Di Parma dan di Italia pada umumnya, Raja dikenal dengan sebutan Duca (jamak) atau Duchi (plural). Raja di Parma pada saat itu membawahi kota Parma dan Piacenza (sekitar 68 km ke arah Utara dari Parma).

Salah satu dari sekian raja yang terkenal itu adalah Raja Farnese (28/3/1569-5/3/1622). Farnese terkenal karena berhasil meninggalkan banyak kenangan berharga bagi rakyat Parma yang patuh padanya. Tentu saja ini berlaku juga di kota Piacenza yang saat itu menjadi wilayah kekuasaannya. Saat ini, Parma dan Piacenza adalah dua kota yang berbeda dan terpisah satu sama lain.

Di Parma—kota kelahirannya—Farnese meninggalkan banyak hal berguna. Salah satunya adalah Teatro Farnese. Nama Farnese diambil untuk mengenang jasanya. Raja yang bernama lengkap Ranuccio I Farnese ini menaruh perhatian besar pada bidang budaya. Pada zamannya, konon, Parma menjadi ibu kota bidang budaya untuk level dunia. Dalam hal ini, Parma pada zaman Farnese selevel dengan kota London dan Paris saat ini.

Farnese kiranya tahu benar keinginan rakyat kota Parma saat itu. Itulah sebabnya, Teatro ini didirikan untuk menampung sekitar 3000 penonton. Bentuknya pun sangat unik. Teatro Farnese dikenal juga dengan sebutan Teatro U karena bentuknya mirip huruf U.

Bagian penontonnya disusun berbentuk tangga dengan 14 anak tangga. Dari anak tangga berketinggian 22 meter inilah penonton bisa menyaksikan aksi teater di hadapan mereka. Jumlah 3000 kiranya tepat untuk ukuran bidang U sepanjang 87 meter dan dengan lebar 32 meter.

Pada bagian akhir dari anak tangga atau pada bagian atas, masih ada 2 tingkatan berukuran besar. Tingkatan itu berupa panggung besar (palcoscenico) dengan tinggi 12 meter dan total panjangnya 40 meter. Bagian belakang ini biasanya digunakan pada acara tertentu saja. Untuk teater biasa cukup di panggung bawah saja.
 
Miniatur Teatro Farnese. Dokumentasi pribadi

Teatro Farnese ini berada di kompleks Piazza della Pace atau tepatnya menjadi bagian dari Palazzo della Pilotta. Teatro ini berada di lantai 1 dari gedung palazzo ini. Tidak sulit untuk menemukannya. Begitu naik tangga, ada tulisan petunjuk yang berada di dekat tangga. Pintu masuknya tepat di dekat tangga. Dari pintu masuk masih ada lorong panjang sebelum sampai di bagian Teatro.

Dua kali penulis berkunjung ke sini saat ada pertunjukkan Teater Malin Kundang pada 2014 yang lalu dan pada hari kunjungan gratis untuk seluruh museum di kota Parma. Dua kali ke sana membuat rasa ingin tahu makin tinggi. Dari sinilah lahir pencarian untuk mengetahui sejarah teatro ini.

Teatro ini memang mempunyai sejarah panjang. Dibangun pada abad 17 yakni tahun 1617 sampai 1618 oleh arsitek Giovan Battista Aleotti (1546-1636). Ide untuk membangun teatro ini muncul dari Raja Farnese. Ia ingin menyambut kehadiran seorang raja dari kota Toscana—Raja Cosimo II—yang sedang berkunjung ke kota Milano. Cosimo II dalam rencananya akan berhenti di kota Parma. Penyambutannya pun direncanakan dalam bentuk acara teater.

Cosimo berkunjung ke Milano dalam rangka menghormati tokoh terkenal di kota itu yakni Carlo Borromeo (1538-1584). Dia adalah seorang Kardinal dan menjadi Pelindung kota Milano. Diangkat menjadi Santo dalam Gereja Katolik oleh Paus Celemente VIII pada 1 November 1610.

Cosimo dalam rencana ini rupanya tidak bisa menikmati acara penyambutan dari Raja Farnese di Parma. Dia membatalkan kunjungannya karena alasan kesehatan. Teatro yang selesai dikerjakan pada musim gugur tahun 1618 ini pun menjadi panggung kosong tanpa pertunjukan selama 10 tahun.

Mimpi Cosimo untuk menikmati teatro ini pun ikut tertunda selama 10 tahun sampai pada kesempatan pembukaan awalnya yakni 21 Desember 1628. Inilah waktu pertunjukkan pertama di Teatro ini. Pada saat itu ada pertunjukkan untuk memeriahkan Pesta Pernikahan dari Odoardo (putra dari Ranuccio) dan Margherita de’ Medici (putri dari Cosimo). Cosimo kiranya senang melihat pertunjukkan dan melihat panggung Teatro Farnese ini.
 
Para pengunjung terkagum-kagum melihat model teatro ini. Dokumentasi pribadi
Sejak saat itu, Teatro Farnese mulai banyak digunakan untuk pertunjukkan. Mulai dari pertunjukkan Mercurio e Marte yang perankan oleh Claudio Achillini sebagai pengaklamasi teks dan iringan musik oleh Claudio Monteverdi. Meski banyak pertunjukkan, biaya perawatan teatro ini ikut mengurangi jumlah permintaan. Dengan alasan ini pun, jumlah pertunjukkan akhirnya dibatasi sampai pada pertunjukkan akhir pada tahun 1732. Nasib pertunjukkan yang tidak jadi dipentaskan memang tidak berhenti di sini. Teatro Farnese akan menjawabnya dalam beberapa abad kemudian.

Sejak tahun 1732 memang Teatro ini praktisnya mati suri. Menjadi tambah hancur lebur dengan pengeboman yang terjadi pada 13 Mei 1944 pada Perang Dunia II. Sekitar 22 tahun kemudian, Teatro ini dibangun kembali yakni antara 1956 dan 1960. Desain asli pun tetap dipertahankan dengan bahan material yang sebagiannya hasil modifikasi.

Praktisnya butuh waktu 3 abad bagi Teatro Farnese untuk menjawab permintaan pertunjukkan yang jumlahnya banyak itu. Teatro ini—sejak direkonstruksi kembali—menerima banyak permintaan pertunjukkan. Bahkan, sejak 2001, Teatro ini mempunyai proyek Farnese Shakespeare untuk mengelola pertunjukkan yang ada.

Tahun 2001 misalnya ada pertunjukkan La Tempesta (Badai) dan Come vi piace (Bagaimana kalian menginginkannya). Setahun kemudian ada pertunjukkan Kisah Tragis dari Amleto, Pangeran dari Denmark. Pada 2003, ada Peccato fosse puttana (Malangnya Pelacur Itu). Masih banyak daftar pertunjukkan lainnya yang diputar sekitar dua minggu atau satu bulan untuk setiap pertunjukkan.

Dari daftar ini bisa diduga bahwa orang Parma memang suka bermain teater. Raja Farnese kiranya sudah menduga hal ini di masa pemerintahannya. Memang orang Parma suka teater. Teatro Farnese hanya satu dari sekian Teatro di kota Parma. Munculnya teater ini tak lepas dari kecintaan rakyat Parma pada dunia teater. Banyak seniman dalam dunia teater lahir, dididik, dan menjadi pemeran di berbagai Teatro ini.

Kiranya, tidak berlebihan jika ada pendapat bahwa kebaikan Raja Farnese tidak saja dikenang untuk beberapa waktu tetapi sepanjang hayat. Selagi rakyat Parma masih cinta pada dunia Teater, selama itu juga kenangan akan Raja Farnese dihidupkan.
 
salah satu bagian sisi penonton
Ide untuk membangun Teatro Farnese memang baik dan berguna tetapi lebih baik dan berguna lagi jika Teatro itu dihidupkan terus dengan mementaskan pertunjukkan bermutu. Dan, rakyat Parma menjawab dan terus menjawab kerinduan ini. Dengan kata lain, rakyat Parma ingin tetap menghidupkan keinginan Raja Farnese sejak dulu. Kenangan akan Farnese pun tetap hidup sampai hari ini.

Betapa kebaikan seorang pemimpin terus dihidupkan karena ia berhasil meninggalkan sesuatu yang berguna bagi rakyatnya.

Sekadar berbagi yang dilihat, ditonton, didengar, dirasakan, dialami, dibaca, dan direfleksikan.

PRM, 14/11/2016
Gordi

Dipublikasikan pertama kali di blog kompasiana



Diberdayakan oleh Blogger.