Halloween party ideas 2015

Tengok Situs Arkeologi Paling Ramah untuk Kaum Difabel di Italia

bagian dalam berlatar gunung, FOTO: napoli.repubblica.it

Situs arkeologi pada umumnya berkaitan dengan peninggalan kuno. Karena kuno, situs ini menjadi objek penelitian bidang arkeologi. Di sinilah kadang-kadang tingkat kesulitannya muncul. Ada yang masih suram, ada yang sudah ada titik terang. Singkatnya, tidak mudah mengakses informasi untuk sebuah calon situs arkeologi.

Kesulitan seperti ini tidak saja dialami oleh para arkeolog dan peneliti situs arkeologi. Orang cacat juga seringkali tidak bisa masuk di situs seperti ini. Kendala infrastruktur biasanya menjadi paling dominan. Akses masuk yang sulit untuk kursi roda misalnya. Bahkan, untuk orang biasa pun kadang sulit. Itulah sebabnya butuh waktu dan biaya tinggi untuk membuat infrastruktur yang ramah bagi semua.

Salah satu situs arkeologi paling terkenal di dunia adalah situs arkeologi Pompei, Italia. Situs ini terletak di Kota Pompei, sebuah kota Metropolitan di dekat kota Napoli-Campagna. Penduduk kota ini berjumlah sekitar 23.358 orang. Kota dengan Pelindung Madonna del Rosario ini berada di ketinggian 14 meter di atas permukaan laut. Di dekat kota ini terdapat Gunung Berapi Vesuvio atau Vesuvius dalam bahasa Latin. Letusan gunung ini menjadi penanda sejarah untuk Situs Arkeologi Pompei.

FOTO: napolike.it  

Letusan terakhir dari Gunung Vesuvio terjadi pada 1944. Saat itu, gunung ini mengeluarkan lava setinggi 800 meter dan membakar sekitar 26 orang. Korban yang begitu tinggi. Belum terhitung kerugian berupa bangunan yang rusak. Tetapi, hampir 2000 tahun yang lalu—tepatnya tahun 79 M—letusan gunung ini memakan lebih banyak korban lagi. Saat itu, korban yang meninggal sekitar 1150 orang. Letusan itu juga meluluhlantakkan situs arkeologi Pompei.

Sebelum menjadi situs arkeologi, kota Pompei memiliki 4 fase kehidupan. Kehidupan di kota Pompei diperkirakan mulai berlangsung pada abad IX SM. Saat itu, ada penduduk Opicia (nama sebuah kota kecil di sekitar kota Napoli). Setelah penduduk Opicia, Pompei dihuni oleh orang Yunani (dari tahun 780 SM). Pada zaman ini, Pompei mulai dibentuk. Beberapa bangunan tinggi mulai dibangun seperti Menara Pithecusa (770 SM) dan Menara Cuma (740 SM). Setelah orang Yunani, muncul penduduk Sannita (mulai sekitar 423-420 SM). Penduduk ini berasal dari wilayah Abruzzo, Italia Tengah. Mereka juga meninggalkan jejak bangunan tua. Periode terakhir setelah Sannita adalah Periodenya orang Romawi (sejak 89 SM). Pada zaman ini terjadi perang antara penduduk Pompei dan Kerajaan Romawi. Roma Menang dan penduduk Pompei pun menjadi penduduk Romawi secara politik. Pada zaman ini juga terjadi letusan Gunung Vesuvio yang terletak di dekat Pompei.

Selalu ada cara agar orang cacat bisa masuk, FOTO: napoli.repubblica.it

Jejak Pompei setelah ledakan besar ini hampir hilang. Kota ini ikut hilang bersama hancurnya kawasan Vesuvio. Setelah ‘hilang’ hampir 1000-an tahun, kota ini ditemukan lagi melalui penggalian oleh para arkeolog. Alhasil, sejak ditemukan kembali pada tahun 1748, situs Pompei pun mulai terbentuk. Berbagai penggalian terus dilakukan agar terlihat bentuk kota antiknya.

Pompei yang ada sekarang ini adalah hasil pemugaran dari temuan para arkeolog. Saat ini, situs Pompei pun berdiri di atas lahan sekitar 66 hektar. Di dalam lahan ini terdapat 12 tiang menara. Situs ini masuk Situs Warisan Dunia UNESCO (UNESCO’s World Heritage Sites) pada tahun 1997.

Sejak saat itu, Situs Arkeologi Pompei menjadi situs arkeologi terkenal di dunia. Jangan heran jika situs ini menjadi incaran pengunjung dari seluruh dunia. Tahun 2016 yang lalu, jumlah pengunjung situs ini menembus angka 3.209.089 orang. Jumlah ini menjadi urutan ke-3 untuk tempat yang paling banyak dikunjungi di Italia pada 2016. Peringkat pertama dan kedua diraih oleh Pantheon dan Colosseo-Foro Romano-Palatina di Roma.

Kepala Proyek Il Grande Progetto Pompei di tengah saat meninjau proyek ini, FOTO: napoli.repubblica.it 

Sejak Desember yang lalu, situs ini pun menjadi ramah untuk orang cacat.
Jika sebelumnya, orang cacat hanya mendengar cerita, saat ini mereka juga bisa masuk. Kursi roda pun bisa melaju di area khusus dengan panjang 3 kilometer. Area khusus ini melewati situs-situs penting di kawasan arkeologi Pompei. Itulah sebabnya orang cacat pun tidak  perlu khawatir lagi.

Area khusus ini dibangun atas ide pemerintah Italia sejak tahun 2011 yang lalu. Ide itu pun digarap dalam proyek “Il Grande Progetto Pompei”. Proyek ini dinahkodai oleh Kepala Proyek Luigi Curatori. Dalam proyek berbiaya 3 juta euro ini dimasukan beberapa pekerjaan seperti perbaikan dan perawatan dinding situs, perbaikan sistem pengelolaan air di dalam situs, perbaikan dan perawatan area seni-dekorasi, penambahan area yang bisa dikunjungi, peningkatan keamanan termasuk dengan menambah jumlah video-camera, dan tentunya yang paling dinanti yakni akses untuk orang cacat.

Sistem area khusus untuk orang cacat ini rupanya termasuk yang terpanjang di Italia dan termasuk satu di antara yang pertama di dunia. Area ini praktisnya melewati jalan utama “Via dell’Abbondanza” dan mengitari sekitar 10 ‘domus’ atau rumah di kawasan Pompei. Sistem area khusus ini dilengkapi dengan fasilitas guide bagi orang buta. Mereka akan dipandu oleh gelang elektronik yang akan menjelaskan dengan suara selama mengitari area khusus.

Orang cacat bisa melewati kawasan penting ini, FOTO: napoli.repubblica.it
Untuk tempat penginapan dan parkiran juga tersedia fasilitas yang memadai. Kebutuhan penginapan orang cacat memang agak beda dengan orang biasa. Kebutuhan mereka yang khusus justru meminta pelayanan yang khusus pula. Rupanya, beberapa hotel di sekitar situs Pompei dilengkapi dengan aplikasi yang bernama “App Tour You”. Aplikasi ini adalah bagian dari proyek di Uni-Eropa untuk mengembangkan ‘turismo accessibile’.

Tempat parkir juga dilengkapi dengan ‘tukang parkir Tommy’. Tommy bertugas untuk mengontrol mobil yang parkir di tempat parkir khusus orang cacat. Aplikasi Tommy berupa plat logam ini akan membunyikan sirene sebagai tanda peringatan kalau ada mobil yang masuk di tempat parkiran khusus. Aplikasi ini menandai setiap mobil khusus untuk orang cacat sehingga mobil lainnya tidak bisa masuk di parkiran ini.

Aplikasi Tommy ini diciptakan oleh ACI (l’Automobile Club Italiano) bekerja sama dengan Kementrian Transportasi Italia. Aplikasi ini sedang dikembangkan lebih banyak lagi. Kota Napoli dan Milano sudah membuat kontrak untuk memasang aplikasi ini. Di kota Roma, aplikasi ini sudah diinstal di 300 tempat parkir khusus.

Aplikasi ini kiranya membantu siapa saja untuk menghormati hak orang berkebutuhan khusus. Sekaligus juga mendidik banyak orang agar memarkir kendaraan pada tempat yang pas dan bukan merampas hak orang lain.

Di bagian tertentu dibuat jalan seperti ini, FOTO: napoli.repubblica.it

Maju juga yah cara orang Italia mengelola kawasan wisatanya. Semoga Indonesia juga nanti bisa mengikuti jejak Italia. Ayo Indonesia juga bisa.

Sekadar berbagi yang dilihat, ditonton, didengar, dirasakan, dialami, dibaca, dan direfleksikan.

PRM, 29/1/2017
Gordi

*Dipublikasikan juga di blog kompasiana



Kala Turis Asing Mengusir Penduduk Venezia

Kanal besar alias grande canale di Venezia, FOTO: getyourguide.it

Kota Venezia yang terkenal itu rupanya kini ditinggal pergi oleh warganya. Anehnya, makin banyak turis asing yang datang menghampiri kota turis top dunia ini. Mengapa keanehan ini terjadi?

Warga Venezia tentunya bangga dengan kota mereka. Ibarat anak kecil dan mainan kesukaannya, warga Venezia makin lekat dengan kota mereka. Mereka tentu tidak akan meninggalkan kota mereka. Sebaliknya, mereka tentu mencintai kota mereka. Mereka menghalau perusak yang datang dari luar. Melindungi keindahan arsitek, spiritualitas, alam, budaya serta kehidupan sosial kota mereka.

Inilah yang membuat Venezia menjadi kota terpadat penduduknya di seluruh Regione Veneto. Kota Venezia yang bernaung di bawah Provincia Venezia dan Comune Venezia ini berpenduduk sekitar 262.246 orang. Kalau dijumlahkan semua dengan mereka yang tinggal di seluruh kota sekitar menjadi 363.468 orang. Untuk ukuran jumlah penduduk setingkat comune, kota Venezia menempati urutan ke-11 untuk seluruh kota di Italia.

Kota Venezia memang bukan kota baru. Kota ini dalam sejarahnya berumur ribuan tahun. Kota ini pernah menjadi ibu kota negara Republik Venezia atau Repubblica di Venezia sepanjang lebih dari 1000 tahun (697-1797 Masehi). Selama periode ini muncul dua tokoh penting dalam sejarah Republik Venezia yakni Paoluccio Anafesto (697-717) dan Lodovico Manin (09/03/1789-12/05/1797).

Paoluccio Anafesto dikenal sebagai il primo doge atau Pemegang Tahta Tertinggi yang pertama dalam sistem pemerintahan Republik Venezia. Kata ‘doge’ berasal dari kata dalam dialek Venezia ‘doxe’ yang artinya kurang lebih seperti Raja. Sedangkan, Lodovico Manin adalah l’ultimo doge atau Pemegang Tahta Tertinggi yang terakhir. Dari Anafesto sampai Manin terdapat 120 orang raja yang memerintah Republik Venezia.

Canale grande berlatar belakang Gereja, FOTO: venicewatertaxi.it

Melihat banyaknya jumlah Raja yang memerintah ini, Republik Venezia pun mempunyai beberapa nama. Raja di Venezia ibaratnya seperti para Menteri Pendidikan di Indonesia yang mengubah-ubah sistem pendidikan di Indonesia. Seperti para Menteri, raja-raja ini mempunyai hak untuk mengubah nama kerajaan mereka. Nama Republik Venezia pun ditulis dalam beragam nama misalnya Venetiarum Respublica dalam bahasa Latin, kemudian Repubblica Veneta yang diambil dalam dialek orang Venetto Republica Veneta. Ada juga nama lain yang jauh dari nama aslinya yakni Repubblica di San Marco dan Serenissima.  Nama Marco boleh jadi terkait dengan nama satu dari Gereja antik di kota Venezia yang sudah ada sejak zaman itu.

Republik Venezia yang eksis sampai abad ke-18 ini meliputi daerah Timur Laut Italia dan beberapa bagian Utara lainnya seperti bagian negara Slowakia saat ini, daerah Ciprus, dan Kereta di Yunani. Itulah sebabnya di kerajaan ini muncul beberapa bahasa seperti Italia, Latin, Slovania, Veneto, dan Yunani.

Republik Venezia berhenti berjaya sejak abad ke-18 tetapi peninggalannya masih bertahan dan makin menarik saat ini. Venezia seolah-olah mekar bunga yang tiada henti. Hari ini tumbuh dan besok tumbuh lagi. Hari ini mekar dan besok mekar lagi. Mekar terus dan tanpa henti. Entah suatu saat akan berhenti jika Venezia meninggalkan budaya, arsitek, alam, dan spiritualitasnya.

Venezia memang unik. Venezia bukan berdiri di atas satu tanah saja. Venezia terkenal karena banyak komponen di dalamnya. Bayangkan, Venezia nama besarnya. Di dalam nama besar ini terdapat banyak nama pulau kecil di sekitarnya yang berjumlah 118. Di peta, komponen ini amat nyata. Jangan heran jika Venezia terkenal karena jembatan antiknya. Jembatan inilah yang menjadi sarana penghubung dari satu pulau ke pulau lainnya. Bahkan, dari daratan Italia ke Stasiun Santa Lucia yang berada di pulau—terpisah dari daratan Italia—tersedia jalur kereta api. Dari Stasiun Maestre (daratan Italia) sampai Stasiun Santa Lucia (Pulau Venezia) hanya 12 menit dengan kereta api regionale.

Di kawasan pusat sejarah (centro storico) terdapat beberapa tempat yang berhubungan. Hubungan ini kadang melalui kanal besar yang dikenal dengan sebutan canale grande. Di kanal-kanal ini berlabuh perahu-perahu untuk para pengunjung. Perahu ini juga yang berlabuh di bawah jembatan terkenal yakni Ponte di Rialto atau Jembatan Rialto. Jembatan ini bersama keempat jembatan lainnya (ponte dell'Accademia, ponte degli Scalzi dan ponte della Costituzione) di pusat sejarah kota Venezia menjadi jembatan antik dan terkenal. Keempat jembatan ini menjadi penghubung di Canale Grande tadi.

Ponte atau jembatan Rialto, FOTO: venicewatertaxi.it
Sampai di sini kiranya jelas bahwa kota Venezia itu menarik banyak orang. Keindahannya bukan saja membuat warganya mencintai kota mereka tetapi juga membuat turis jatuh cinta dengan kota ini. Jatuh cinta ini rupanya membuat warga Venezia harus meninggalkan kota mereka.

Penduduk Venezia saat ini rupanya pelan-pelan berkurang. Mereka kebanyakan tinggal di luar kota mereka. Meski demikian, kota Venezia tetap ramai. Turis asing rupanya mengambil alih kota Venezia ini.

Dari sensus penduduk bulan November yang lalu muncul data bahwa hanya 54.994 penduduk Venezia yang tinggal di kota Venezia. Sekitar 10 tahun lalu (2006), penduduk kota ini berjumlah 60.000. Bahkan, kota ini pernah dihuni oleh 120.000 orang pada tahun 1960-an. Kalau dirata-ratakan, saat ini terdapat sekitar 2,6 orang penduduk Venezia yang meninggalkan kota mereka setiap hari.

Pengurangan ini tidak membuat Venezia sepi. Venezia tetap ramai misalnya di sekitar jembatan-jembatan, di pusat sejarah kota, di perahu-perahu. Keramaian ini rupanya diisi oleh para turis asing yang saat ini jumlahnya hampir sama dengan jumlah penduduk kota Venezia yakni 50.000-an orang.

Penduduk Venezia pun merasa asing dengan kota mereka. Mereka kini merasa sulit untuk tinggal di kota asal mereka. Mereka juga merasa sulit hidup di kota yang kini dipadati oleh kelompok droga alias mabuk-mabukkan, dan kelompok penghuni stasiun. Warga Venezia tidak biasa dengan kehidupan aneh nan asing seperti ini.

Kesulitan lain yang mereka hadapi adalah soal tata kelola kota Venezia. Pemerintah kota saat ini memberikan ruang seluas-luasnya kepada pengelola mode. Jadilah Venezia sebagai kota mode yang menjajah penduduknya. Warga terpaksa melepaskan tempat tinggal mereka untuk dijadikan pusat mode. Alhasil, Venezia terkenal dengan mode-nya sekaligus menjadi mode yang kebablasan, yang tidak ramah dengan penduduknya.

Kesulitan besar ini menjadi bagian utama dari kesulitan kecil lainnya seperi macetnya moda transportasi publik. Orang Venezia bahkan merasa sesak karena sulit bergerak. Mereka mengatakan spostarsi è impossibile, tidak mungkin lagi bergerak sekadar berpindah-pindah tempat di kota ini.
 
Sisi Lain dari Kanal besar di Venezia, FOTO: globeholidays.net

Orang Venezia yang mencintai kota mereka ini pun bergerak untuk aksi protes. Mereka sudah mulai berjuang dengan membuat protes kecil dan aman di beberapa tempat umum di kota sampai di depan kantor wali kota. Aksi protes ini pun diteruskan ke Pemerintah Pusat. Bahkan, juga sampai ke UNESCO, sebagai badan internasional yang memberi perhatian pada warisan budaya dunia.

Dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pun sudah muncul tanggapan. Tidak main-main, dalam waktu dekat pemerintah Italia dan pemerintah setempat di Venezia mesti memenuhi tuntutan UNESCO. UNESCO rupanya sudah melihat situasi kurang bagus di kota Venezia. Organisasi PBB ini merasa perlu ada tindakan khusus agar warisan dunia di kota Venezia tidak rusak. Itulah sebabnya, UNESCO memberi waktu pada Italia dari saat ini sampai bulan Februari 2017 yang akan datang untuk mengatasi situasi kurang bagus terkait keadaan warisan dunia di kota Venezia.

Semoga Venezia tidak akan seperti Bali dan kawasan Puncak, Jawa Barat. Di Bali, banyak tempat dan bangunan yang dimiliki oleh turis asing. Warga Bali menjadi tamu di rumahnya. Demikian juga di kota Labuan Bajo yang digadang sebagai Bali ke-2 atau ke-3. Di kawasan Puncak juga hampir sama karena pemilik hotel dan resort sebagian besarnya penduduk Jakarta dan juga para bule Arab yang menghabiskan masa kawin kontraknya di kawasan sejuk ini.

Sekadar berbagi yang dilihat, ditonton, didengar, dirasakan, dialami, dibaca, dan direfleksikan.

PRM, 19/12/2016


Gordi

Dipublikasikan pertama kali di blog kompasiana
Diberdayakan oleh Blogger.