Halloween party ideas 2015

Mimpi Jadi Nyata

Halaman depan basilika St Maria Rosario, Lourdes, foto, Gordi
Ziarah ke Lourdes. Inilah yang mau saya tuliskan kali ini. Saya menulis ini setelah pulang ziarah dari Lourdes. Saya rela menunda tulisan perjalanan lainnya demi membuat tulisan ini. Saya memilih menulis pengalaman ini lebih dulu dari yang lainnya. Masih banyak utang tulisan perjalanan lainnya. Yang lain sudah ada di blog perjalanan, yang lain masih ada dalam kertas, yang lain lagi masih menunggu untuk dilengkapi. Tapi kali ini saya ingin segera menulis pengalaman ke Lourdes ini. 

Lourdes bukanlah nama baru bagi saya. Saya sudah mendengarnya sejak lama. Sejak kecil. Sejak SD. Saya juga sudah melihat foto-fotonya berulang kali. Pertama kali di kalender yang ada di rumah kami dari paroki. Di kalender itu ditampilkan beberapa foto, 12 foto plus beberapa tambahan, tentang Lourdes. Dari gua marianya, St Bernadette, gereja atau basilikanya, serta tempat indah lainnya. Saya juga melihat beberapa gua Maria di Indonesia yang patungnya meniru patung Bunda Maria dari Lourdes. Mungkin pembaca ingat atau pernah mengunjungi gua Maria di Sendangsono, dekat Borobudur, Jawa Tengah. Itulah salah satunya. Selain itu, saya juga melihat banyak foto dan mendengar informasi tentang Lourdes. Di majalah HIDUP sering ditampilkan iklan peziarahan atau travelling ke beberapa tempat ziarah internasional. Di situ, diinformasikan dan ditampilkan gambar-gambar seputar Lourdes.

Saya pun ingin mengunjungi tempat ini jika mungkin. Namun, hanya mimpi saja. Sebab, biayanya bukan main. Dari Indonesia ke Lourdes, Prancis, butuh puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Saya tidak sanggup membayar sekian itu. Mimpi memang kadang tinggal mimpi alias tidak nyata namun kadang-kadang jadi nayata. Dan, itulah yang saya alami dengan mimpi mengunjungi Lourdes ini.

Saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke tempat ini pada Agustus 2014. Ada kelompok sahabat kami di sekitar kota Parma, Italy yang rela membantu saya dan beberapa teman saya. Mulailah proses ini pada Februari dan Maret 2014. Kami mengisi formulir berupa data pribadi. Meski saya belum mendapat kartu identitas warga negara asing yang tinggal di kota Parma, sahabat kami ini tetap mau melengkapi formulir pendaftaran itu. Dia menjamin tidak akan ada masalah. Dan, memang demikian meski kartu identitas itu keluar pada hari keberangkatan kami ke Lourdes. Pagi hari, kami ke kantor kepolisian dan imigrasi untuk mengambil kartu yang lama sekali keluarnya ini.

patung Bunda Maria menghadap gereja
basilika, foto, Gordi
Perjalanan peziarahan ini pun berlangsung hampir satu minggu. Dari tanggal 7 hingga 13 Agustus 2014. Biayanya tentu saja tidak murah. Saya mencoba iseng-iseng bertanya pada sahabat kami ini karena sebetulnya saya juga enggan untuk bertanya biayanya. Dia pun memberi tahu. Kira-kira € 630. Kalau dirupiahkan kira-kira jadi Rp 9.836.164,80. Satu euro senilai Rp 15.612,96. Biaya ini untuk orang dewasa. Sedangkan untuk anak muda atau pelajar dan mahasiswa, setengah dari itu. Kami masuk dalam kelompok mahasiswa. Jadi, biaya saya hanya € 330 saja. Kelihatan murah. Ya, tentu saja kalau dibanding dengan biaya dari Jakarta-Indonesia ke Lourdes. –Prancis. Tidak sebanding dengan ini karena dari Italia ke Prancis dekat saja kalau dibanding Indonesia-Prancis. Tapi, biaya ini tetap besar dan mahal mengingat Italia sedang dalam keadaan krisis.

Ini adalah anugerah Tuhan untuk saya di tahun ini. Hanya salah satu anugerah karena masih banyak anugerah lainnya. Mimpi saya pun jadi nyata. Mimpi ini diwujudkan dalam beberapa kegiatan yang kami buat selama peziarahan ini. Saya akan ceritakan dalam tulisan berikutnya. (bersambung)

Parma, 14/8/2014
Gordi

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.